Persamaan dan Perbedaan Masyarakat Banjar dan Masyarakat Jawa Terhadap Perayaan 10 Muharam

JENDELA IPS. Dalam sistem kalender Qamariyah atau kalender Islam, bulan Muharam merupakan bulan pertama sehingga 1 Muharam menjadi awal tahun baru Hijriyah. Dengan menyambut tahun baru Islam tentu banyak tradisi yang dilakukan oleh masyarakat di masing-masing daerah dengan ciri khas yang berbeda. Namun tidak menutup kemungkinan akan memiliki beberapa persamaan  dengan daerah lain dalam tradisi perayaan bulan Muharam tersebut. Sama halnya dengan perayaan 10 Muharam di masayarakat Banjar dan masyarakat Jawa.  Pada tanggal 10 Muharam masyarakat Banjar dan masyarakat Jawa Barat (Khususnya Tasikmalaya dan Limbangan) membuat bubur untuk menyambut datangnya bulan Muharam. Tetapi bubur yang di buat berbeda. Namun memiliki tujuan yang sama yaitu agar mendapatkan keselamatan dari sang pencipta. Bagi masyarakat Banjar dan masyarakat Jawa selain sebagai menyambut bulan Muharam, tradisi membuat bubur pada 10 Muharam  juga sebagai mengenang wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW yaitu Husien bin Ali bin Abi Thalib dimedan peperangan.

Pada 10 Muharam masyarakat Banjar Islam berpuasa dan membuat bubur asyura khas Banjar yang nantinya akan dijadikan sebagai menu berbuka puasa dan dibagikan kepada kerabat terdekat. Biasanya mereka beramai-ramai dan berkumpul di suatu tempat atau Masjid untuk membuat bubur asyura. Setelah bubur asyura selesai dimasak, selanjutnya bubur tersebut dibacakan do’a terlebih dahulu dengan doa selamat. Tujuannya yaitu agar terhindar dari bala’. Bagi  yang tidak berpuasa, setelah dibacakan do’a bubur tesebut boleh langsung di makan bersama. Tetapi bagi yang berpuasa di jadikan menu berbuka puasa. Selain itu, bubur tesebut akan dibagikan kerumah-rumah penduduk dan  kerabat terdekat sampai bubur tersebut habis. Dalam pembuatan bubur asyura ada keharusan untuk melengkapi 41 macam bahan.  Jika bahan tidak genap 41, maka pembuatnya bisa menambahkan bahan lainnya sesuai selera agar mencukupi 41 bahan. Bahan utama dalam pembuatan bubur asyura adalah beras. Adapun jenis bahan dalam membuat bubur asyura khas masyarakat Banjar yaitu sayuran, kacang-kacangan, hingga daging. Biasanya ada beberapa bahan yang wajib dan selalu digunakan oleh masyarakat Banjar dalam membuat bubur asyura yaitu kangkung, wortel, kentang, daun pucuk waluh dan lainnya.

Sedangkan pada masyarakat Jawa Barat (Khususnya Tasikmalaya dan Limbangan), pagi hari setiap tanggal 10 Muharam meraka memasak bubur hampir  di setiap rumah. Bubur yang mereka masak adalah bubur merah dan bubur putih yang disebut dengan bubur suro. Setelah itu, bubur merah dan bubur putih tersebut akan dibawa oleh masing-masing penduduk  ke Masjid disertai dengan beragam makanan ringan lainnya. Penduduk yang mengikuti acara di masjid tersebut akan duduk membentuk lingkaran  dan acara akan dipimpin oleh orang yang dituakan di daerah tersebut. Seorang wanita paruh baya yang memimpin acara akan membacakan solawat dan pujian untuk Rasulullah SAW yang diambil dari kitab Al-Barzanzi. Setelah selesai Al-Barzanzi dilantunkan, akan dilanjutkan dengan diceritakannya kisah hidup Husien bin Ali bin Abi Thalib tentang perjuangannya dalam menegakkan keadilan hingga Husien bin Ali yang syahid di medan peperangan. Setelah semuanya selesai, maka semua yang hadir dalam acara tersebut akan menikmati hidangan bubur suro dan hidangan lainnya secara bersama. Berbeda dengan bubur asyuro khas masyarakat banjar yang dibuat dengan banyak bahan, bubur suro khas masyarakat Jawa Barat dibuat dengan bahan yang mudah dan tidak terlalu banyak. Adapun bahan yang digunakan dalam pembuatan bubur suro atau bubur merah dan bubur putih masyarakat jawa  yaitu: beras, gula merah, santan, daun pandan dan garam.

Penulis: Hijjatul Alawiah