Perbandingan Acara Haul di Kalsel dan Haul di Jawa, Haul di Kalsel Memperingati Wafat Muhammad Zaini Abdul Ghani atau Guru Sekumpul

JENDELA IPS. BANJARMASIN – Salah satu kegiatan religi yang sering dilaksanakan di Kalimantan SelatanĀ  (Kalsel) adalah kegiatan haul. Ada dua orang tokoh ulama yang apabila kegiatan haulnya dilaksanakan, mampu mendatangkan massa dengan jumlah yang besar. Yakni K.H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Guru Sekumpul) dan Syckh Muhammad Arsyad Al-Banjari (Datu Kelampaian). Haul bisa diartikan sebagai hari peringatan wafatnya seseorang yang dihormati, walaupun pada masa Nabi Muhammad SAW dan para sahabat tradisi seperti ini belum berkembang namun jika kita melihat apa yang dilakukan saat penyelenggaraan haul berupa bacaan do’a yang dihadiahkan kepada yang bersangkutan juga kepada kaum muslimin dan muslimat secara umum sangat dianjurkan dalam Islam (Abbas, 2013).

Foto pelaksanaan haul Guru Sekumpul di Mushala Ar-Raudah, Martapura, Kalsel

Sumber: Apahabar.com Banjarmasin

Muhammad Zaini Abdul Ghani atau biasa disebut Guru Sekumpul sangat dihormati dan dicintai masyarakat Kalimantan Selatan. Masyarakat disini menganggapnya sebagai wali Allah yang mulia dan agung. Oleh karena itu, makamnya yang ada di Sekumpul Martapura selalu ramai dikunjungi orang setiap hari dengan berbagai niat, ada yang sekedar ziarah, membayar nazar, zikrul maut, mengenang jasanya, silaturrahmi ruhaniah, rekreasi spiritual, melakukan introspeksi, tafakkur atau memanjatkan do’a membaca Al-Qur’an, zikrullah, bertahlil, bershalawat maupun berkhalwat.

Guru Sekumpul meninggal dunia pada tahun 2005. akan tetapi pengaruh K.H Muhammad Zaini bin Abdul Ghani masih dirasakan hingga sekarang, bahkan makamnya menjadi tempat yang dikeramatkan dan selalu dikunjungi masyarakat Kalimantan Selatan dan sekitamya. Sampai sekarang kaset-kaset ceramah dan untaian suara K.H. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani ketika mengumandangkan maulidsimtuddurar dan maulid azab masih enak didengar dan tentunya masih sangat laku dijual dipasaran.

Pelaksanaan haul Guru Sekumpul terdiri dari tiga hari, yakni haul di rumah kediaman. almarhum Guru Sekumpul yang dilaksanakan tepat tanggal 5 Rajab, haul di Kubah Guru Sekumpul, serta haul yang dilaksanakan di Mushalla Ar-Raudhah. Baik haul di rumah dan di kubah dihadiri oleh para tamu undangan seperti para alim ulama, habaib, keluarga, pejabat, serta karyawan-karyawan Al-Zahra. Sementara haul akbar di Mushalla Ar-Raudhah terbuka untuk umum. Nilai-nilai haul Guru Sekumpul meliputi: (1) nilai religius (beriman-bertakwa, toleransi, cinta lingkungan), (2) nilai nasionalis (cinta tanah air dan menghargai kebhinnekaan), (3) nilai integritas (kejujuran, kesantunan, cinta pada kebenaran), (4) nilai mandiri (kerja keras, kreatif, disiplin, berani), serta (5) nilai gotong royong (kerjasama dan saling menolong). 

Haul di Jawa Melaksanakan Ritual Haul R.M. Iman Soedjono di Pasarean Gunung Kawi

R.M Iman Soedjono adalah seorang bangsawan yang menjadi panglima perang Pangeran Diponegoro dari keraton Yogyakarta. Beliau sebagai penasehat spiritual Pangeran Diponegoro yang melarikan diri ke wilayah Timur setelah Pangeran Diponegoro tertangkap oleh Belanda, tahun 1830. R.M. Iman Soedjono oleh etnis Tionghoa dipanggil Djie Lo Su artinya Guru yang kedua (Tju, 1953:31). Guru yang pertama yaitu Eyang Djoego. R.M. Iman Soedjono mendapat perintah dari Eyang Djoego untuk babad alas Wonosari yang akan digunakan untuk makamnya kelak. Peristiwa itu didasarkan atas wasiat Eyang Djoego yang menginginkan agar kelak ia dimakamkan di wilayah ini (Prastowardoyo & Anam, 2009:75). Ketika Eyang Djoego meninggal sesuai dengan wasiatnya dimakamkan di Gunung Kawi tersebut. Setelah Eyang Djoego meninggal tak lama berselang R.M. Iman Soedjono pun wafat pada hari Rabu Kliwon tahun 1876 Masehi atau 12 Sura. Beliau makamkan di samping Eyang Djoego sehingga makam kedua tokoh tersebut dikenal dengan pasarean Gunung Kawi.

Sebagai pengingat meninggalnya R.M. Iman Soedjono maka diadakan haul setiap tanggal 12 Sura dimulai setelah Dhuhur (sekitar pukul 13.00 WIB) selesai menjelang Magrib. Rangkaian acara haul R.M. Iman Soedjono terdiri dari beberapa proses ritual dilaksanakan pada beberapa tempat di komplek pasarean Gunung Kawi. Rangkaian ritual haul, yaitu pembagian angpao, persiapan, pemberangkatan kirab, penjemputan utusan dari Mataram di gapura masuk, setelah itu bersama rombongan menuju ke padepokan R.M.Iman Soedjono untuk berdoa bersama, penyerahan simbol keraton Yogyakarta di depan gapura pintu ketiga (pintu masuk ke pasarean), pembukaan pintu pasarean oleh juru kunci dan utusan dari Mataram, peletakan sesaji di pendapa agung, berdoa bersama di pendapa agung pasarean, ziarah.

Foto pelaksanaan haul RM Iman Soedjono, Pasarean Gunung Kawi

Sumber: Tugumalang.id

Ritual haul R.M. Iman Soedjono dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan terhadap almarhum yang berjasa kepada masyarakat Wonosari dan memberikan keberkahan terhadap para peziarah. Rangkaian ritual haul tersebut dilaksanakan pada berbagai tempat di komplek pasarean Gunung Kawi. Tempat-tempat tersebut tentunya mempunyai makna dimana sebagai tempat sejarah almarhum R.M. Iman Soedjono. Makna simbolik dalam rangkaian acara haul tercermin dari semua atribut dalam ritual, tata cara ritrual, dan perilaku sebagai gerak-gerik yang merefleksikan makna simbolik. Perpaduan budaya Islam-Jawa sangat kental pada ritual haul R.M. Iman Soedjono ini. Laku kejawen dan ajaran Islam menyatu membentuk kehamornisan yang selaras dalam ritual ini. Terselenggaranya ritual haul R.M. Iman Soedjono ini tentunya didukung oleh berbagai pihak sebagai wujud terbentuknya jejaring sosial dengan segala komponen masyarakat. Ritual ini tidak terlepas dari fungsi sosial maupun budaya yang telah diwariskan oleh leluhur, yaitu adanya kebersamaan, kegotongroyongan, saling menghargai dan toleransi antar sesama. Dalam hal ini mencerminkan bahwa ritual merupakan fenomena sosial yang saling mempengaruhi, melengkapi, dan menjalin rasa persatuan dalam kebersamaan untuk mencapai satu tujuan.

Perbandingan Haul Guru Sekumpul dan Haul R.M. Iman Soedjono

Haul Guru Sekumpul ramai dikunjungi orang setiap hari dengan berbagai niat, ada yang sekedar ziarah, membayar nazar, zikrul maut, mengenang jasanya, silaturrahmi ruhaniah, rekreasi spiritual, melakukan introspeksi, tafakkur atau memanjatkan do’a membaca Al-Qur’an, zikrullah, bertahlil, bershalawat maupun berkhalwat. Sedangkan ritual haul R.M. Iman Soedjono dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan terhadap almarhum yang berjasa kepada masyarakat Wonosari dan memberikan keberkahan terhadap para peziarah. Ada hal unik dalam ritual haul R.M. Iman Soedjono ini adalah acara pembagian angpao. Oleh karena itu, sebagai ungkapan syukurnya pada saat haul R.M. Iman Soedjono, mereka berbagi angpao maupun makanan secara gratis. Pemberian angpao mempunyai makna transfer kesejahteraan atau transfer energi dengan kata lain berbagi terhadap sesama. Dalam budaya Jawa juga dikenal dengan andum berkat artinya menikmati keberkahan atau rezeki bersama-sama. (Nisrina)

Penulis : Nisrina Nasywa Syawalia