Mesjid Sebagai Bukti Peninggalan Dari Kesultanan Banjar

Banjarmasin – Sabtu, 24 September 2022. Kal-Sel, Salah satu peninggalan sejarah dari kesultanan banjar yang masih dapat kita temui sampai sekarang ini adalah mesjid, yang diberi nama Mesjid Sultan Suriansyah. Mesjid Sultan Suriansyah merupakan mesjid yang terletak di Banjarmasin, lebih tepatnya mesjid ini berada di dekat sungai kuin di JL Kuin Utara, Rt 4, Desa Kuin Utara, Banjarmasin Utara. Mesjid sultan suriansyah merupakan bangunan tertua yang berada di wilayah kuin utara kota Banjarmasin, sejarah pembangunan ini tidak bisa dilepaskan dari sosok yang sangat berjasa yaitu pengeran Sultan Suriansyah yang merupakan Sultan pertama Kesultanan Banjar (1526- 1550) sejak era Islam. Mesjid ini juga tidak terlalu jauh dengan keberadaan makam sultan suriasyah yang hanya berjarak 500 meter.

Mulyadi Ahmad (63) menuturkan bahwa “proses pembangunan tersebut sudah dilakukan beberapa kali pemugaran”. benar saja jika dilihat dari catatan sejarah mesjid tersebut, bahwa pemugaran telah di lakukan sebanyak beberapa kali. Mesjid Sultan Suriansyah pernah di pugar pada tahun 1976 yang dipelopori oleh Kodam X Lambung Mangkurat, pada tahun 1999 di pelopori oleh pemerintah provinsi Kalimantan Selatan, dan terakhir telah dilakukan pemugaran pada tahun 2000 yang di pelopori oleh gubernur Kalimantan selatan Drs. H. Gusti Hasan. Oleh sebab itulah Karena merupakan peninggalan sejarah dari kesultanan banjar, maka ditempatkan pula juru pelihara atau penjaga yang menyimpan dan merawat mesjid tersebut.

Mesjid tersebut memiliki nilai budaya dan sejarah yang sangat tinggi dan merupakan kebanggaan yang dimiliki kota Banjarmasin. Dimana mesjid tersebut merupakan aset yang dapat dipergunakan oleh masyarakat sebagai sarana untuk beribadah. Oleh karena itulah mesjid menjadi cagar budaya yang bukan hanya milik masyarakat setempat saja tetapi juga menjadi milik kita bersama. Meskipun sudah di renovasi, ada beberapa bagian-bagian mesjid yang masih asli misalnya, Mimbar yang bertangga, empat tiang guru, dua buah pintu, dan beduk . Beduk merupakan salah satu peninggalan yang menjadi aset budaya yang masih ada sampai sekarang di mesjid sultan suriansyah.

Mesjid yang menjadi cagar budaya ini memiliki ornamen atau desain-desain kaligrafi bahasa arab yang berbeda-beda. Seperti ornamen kaligrafi pada pintu yang asli sebelah kanan dan kiri keduanya bertuliskan arab melayu, sebelah kanan berbunyi “Ba’da Hijratun Nabi Shallallahu’alaihi Wasalam Sunnah 1159 pada tahun Wawu ngaran Sultan Tamjidillah Kerajaan dalam Negeri Banjar dalam Tanah tinggalan yang mulia”. Sedangkan sebelah kanan tidak terbaca. Sementara lengkungan Mimbar terdapat kaligrafi yang berbunyi “Allah Muhammadarrasulullah”. Selain itu adanya peninggalan asli seperti empat tiang utama yang juga mempunyai nilai sejarah dan budaya yang tinggi, tiang tersebut biasanya di sebut sebagai “Tiang Guru”.

Awal mulanya mesjid ini dibangun pada masa kekuasaan Sultan Suriansyah (1526-1550), ialah raja banjar pertama yang memeluk agama islam. Sebelum bernama Sultan Suriansyah, ia dikenal dengan sebutan Pangeran Samudera. Pangeran Sultan Suriansyah memeluk islamberawal dari syarat kerajaan Demak yang ingin membantu menghadapi serangan dari pangeran tumenggung.

Jika, Pangeran Sultan Suriansyah (Samudera) mendapatkan kemenangan, maka pangeran dan rakyatnya harus memeluk agama islam. Pada akhirnya, ia berhasil memenangkan peperangan dan memeluk agama islam lalu namanya berganti menjadi sultan suriansyah. Dan tidak lama setelah itu, Sultan Suriansyah membangun mesjid Sultan Suriansyah. Sekarang keadaan mesjid tersebut masih tetap kokoh dan terawat, “tapi sayangnya tingkat pengunjung mesjid itu sangat sedikit kecuali pada acara –acara besar tertentu saja” berdasarkan penuturan dari pengurus umum mesjid tersebut Mulyadi Ahmad (63). Di sebrang mesjid tersebut juga ada Darmaga yang dimana pada saat ini, pagar pada siring itu sudah mengalami kerusakan karena banyak nya tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab, mengambil dan memanfaatkan kayu ulin tersebut untuk kepentingan pribadi, padahal darmaga tersebut baru saja dilakukan renovasi.

Pada sekeliling mesjid tersebut sekarang ini juga sudah ada beberapa bangunan yang dapat dimanfaatkan seperti, pembangunan sarana pendidikan yang terdiri dari taman kanakkanak (TK), Madrasah Ibtidaiyah(MI), Madrasah Tsanawiyah (MTS), dan terdapat juga panti asuhan dua lantai. Keberadaan bangunan-bangunan baru yang ada disekeliling mesjid tersebut sangat berguna bagi masyarakat sekitar yang bertempat tinggal di daerah tersebut, walaupun sekarang masyarkat nya sudah banyak pendatang dari berbagai daerah dan bukan masyarakat asli tersebut, tetapi mereka tetap selalu menjalin kerukunan dan kebersamaan antar masyarakat sekitar untuk menjaga dan merawat mesjid tersebut yang menjadi cagar budaya dan ciri khas dari Kalimantan selatan.

Penulis: Inayatul Khadijah

Hasil: Wawancara & Internet

Dokumentasi : Inayatul Khadijah