Melestarikan Kebudayaan Kalimantan Selatan dengan Usaha Mewarna Kain Sasirangan

KALIMANTAN SELATAN – Sasirangan merupakan kain tradisional Kalimantan Selatan, adat  suku Banjar yang di waris kan secara turun temurun sejak abad XII, pada saat Lambung Mangkurat menjadi Patih Negara Dipa. Kain sasirangan digunakan sebagai pakaian adat  yang digunakan oleh kalangan Bangsawan pada saat mengikuti upacara-upacara adat. Semakin berkembangnya zaman, kain Sasirangan tidak hanya digunakan sebagai pakaian adat dan juga tidak hanya digunakan oleh para bangsawan. Pada masa sekarang, kain sasirangan lebih marak di gemari oleh para pemuda-pemudi Indonesia.

Melihat tren baju sasirangan yang semakin dibutuhkan dan digemari oleh masyarakat, membuat Ibu Nuraniah membuka peluang usaha dengan mewarnai kain sasirangan di kawasan rumahnya. Selain bertujuan untuk melestarikan kebudayaan Kalimantan Selatan. Kain sasirangan juga bisa di jadikan sebagai mata pencaharian.

Usaha rumahan yang didirikan Ibu Nuraniah, menjadikan peluang pekerjaan untuk warga lainnya, Mewarna kain sasirangan di lakukan oleh ibu Nuraniah bersama warga lainya, di teras belakang rumah Ibu Nuraniah. Mewarna kain sasirangan tersebut membutuhkan waktu yang cukup lama dan rumit, begitu tutur Ibu Nuraniah.

Setelah proses mewarnai kain sasirangan, kemudian pola-pola yang terdapat pada kain sasirangan tersebut di beri karet kemudian diikat, teknik ini dinamakan dengan (membungkus). Setelah semua pola dibungkus maka teknik selanjutnya adalah  pemberian corak yang sesuai dengan tema kain sasirangan itu sendiri.

Kata ibu Nuraniah, “pemberian corak pada kain sasirangan hanya perlu diberikan bercak-bercak pewarna pada pola yang telah ditentukan”. kemudian setelah kain yang di berikan corak, selanjutnya adalah bungkusan karet pada kain sasirangan akan di buka. Setelah itu, kain sasirangan dengan tema corak akan di jemur, namun kata Ibu Nuraniah menjemur kain sasirangan tidak perlu dibawah matahari langsung, karena hal tersebut dapat menyebabkan warna dan motif kain sasirangan akan luntur. Untuk pembuatan kain sasirangan tanpa corak, tidak perlu melakukan dua kali pewarnaan seperti memberi warna corak.  

Dengan empat pekerja lainya,ibu Nuraniah menghasikan puluhan kain perhari. Kain yang telah kering di kembalikan kepada produsen untuk di salurkan kepada distributor. Harga kain sasirangan menurtu ibu Nuraniah tergantung motif pada kain, jika motif kain sasirangan tersebut bercorak maka harga kainnya pun semakin mahal. Selain membuka usaha mewarnai kain sasirangan, ibu Nuraniah juga membuka jasa untuk menjahit kain sasirangan dari lukisan pola, untuk mempersingkat proses pewarnaan.

Jasa menjahit kain sasirangan merupakan jasa lepas yang artinya pengerjaannya tidak di lakukan di rumah ibu Nuraniah. Untuk upahnya sendiri di ibu Nuraniah memberikan sesuai motif yang di jahit, jika kain memiliki motif yang cukup rumit maka ibu Nuraniah akan memberikan Rp. 3.000.00/per kain. Namun untuk motif yang biasa ibu Nuraniah hanya akan meberikan Rp.2.000.00/per kain.

Kain yang akan dijahit oleh para pengjahit buruh lepas tersebut, diantar sendiri oleh ibu Nuraniah, beliau berkata “kebanyakan yang mengambil jasa mengjahit kain ini merupakan ibu-ibu rumah tangga yang tidak bisa mengendarai sepeda motor, oleh karena itu setiap minggu saya akan menyerahkan kain baru  yang akan dijahit dan mengambil kain yang sudah dijahit oleh-oleh ibu-ibu tersebut”.  

Usaha mewarna yang didirikan Ibu Nuraniah di Kecamatan Kertak Hanyar menjadikan sebagai lapangan kerja buruh lepas dengan gaji yang sesuai. Usaha tersebut didirikan ibu Nuraniah bersama sang suami kurang lebih 1 tahun.

Dalam cerita yang dibagikan oleh ibu Nuraniah beliau berkata bahwa” awalnya saya cuman hanya mengambil jasa mengjahit, namun setelah saya pikirkan, kenapa tidak saya bekerja sama dengan produsen sasirangan tersebut. Oleh karena itu, dengan modal yang kecil, saya dan suami saya membeli perlengkapan seperti pewarna untuk kain sasirangan, karet dan plastic untuk membungkus kain sasirangan yang memiliki corak, bahkan untuk alat seperti tempat merebus air untuk pewarna hanya menggunakan alat yang berupa (panci) milik pribadi”.

Usaha ibu Nuraniah tentunya sekarang membawa dampak yang positif, selain sebagai penambah penghasilan kain sasirangan juga sebagai melestarikan budaya. Hal ini juga sebagai daya tarik kepada masyrakat agar tidak melupakan tradisi.

Penulis: Sri Rahayu