Eksistensi Jukung Sebagai Alat Transportasinya Orang Hulu Sungai Selatan

Hulu Sungai Selatan (HSS) – Salah satu kabupaten di Kalimantan SelatanIndonesia. Ibu kota sekaligus pusat pemerintahan terletak di Kandangan. Secara geologis daerah ini terdiri dari pegunungan yang memanjang dari arah timur ke selatan, namun dari arah barat ke utara merupakan dataran rendah aluvial yang kadang-kadang berawa-rawa. Hulu Sungai Selatan di aliri oleh Sungai Amandit bermuara ke Sungai Negara (anak sungai Barito) yang berfungsi sebagai sarana prasarana perhubungan dalam kabupaten dan ke kabupaten lainnya. Sungai Amandit mempunyai dua cabang sungai, yaitu Sungai Bangkan dan Sungai Kalumpang. Sungai-sungai yang mengalir di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Selatan adalah sebagai berikut: Sungai Negara, Sungai Angkinang, Sungai Amandit, dan Sungai Kajang.

Masyarakat yang tinggal di daerah hulu sungai selatan ini masih menggunakan Sarana transportasi tradisional jalur air (sungai) yang menurut istilah bahasa Banjar disebut dengan ‘Jukung’. Yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan sebutan perahu atau sampan. Jukung merupakan alat transportasi air yang tertua sebelum dikenal adanya kapal.

Kalimantan Selatan yang dikenal sebuah pulau dengan seribu sungai sudah barang tentu mengenal jukung ini sejak zaman dahulu kala. Budaya jukung sebenarnya dikenal pada 2000 SM, ketika migrasi pertama bangsa proto melayu (melayu tua) dari sungai Mekong, Yunan, Cina Selatan ke Kalimantan. Di duga bangsa proto-melayu yang telah mengenal logam tersebut adalah nenek moyang suku Dayak. Baru pada abad 6-7 M pembuatan jukung yang memiliki beragam jenis semakin berkembang di Kalimantan.

Sudah sejak lama jukung beroprasi di perairan sungai-sungai Kalimantan Selatan dalam berbagai fugsinya dari masa ke masa. Jukung sebagai alat transportasi, untuk berjualan atau berdagang, mencari ikan, menambang pasir dan batu, mengangkut hasil pertanian, angkutan barang dan orang dan jasa lain-lain.

Jukung dibuat selaras dengan kondisi alam Kalimantan pada waktu itu. Yang paling tua jenisnya diperkirakan adalah jukung sudur dan menjadi pondasi terciptanya jukung-jukung jenis baru. Perkembangan jukung yang sampai ke Kalimantan Selatan akhirnya menjadi identitas budaya saat berdirinya kerajaan Dipa di Amuntai, lalu kerajaan Daha di Nagara, Hulu Sungai Selatan hingga, kerajaan Banjar di kuin, yang menjadi tonggak lahirnya suku banjar. Budaya sungai dan alat transportasinya tidak bisa dipisahkan dalam sistem sosial masyarakat Kalimantan selatan ketika itu.

“Jukung masih di pakai masyarakat setempat, dan bahkan sampai sekarang, yang berkurang itu alat transportasi klotok (kapal besar). Jukung disini kebanyakan di gunakan untuk ke sawah atau maunjun (menangkap ikan) para nelayan sehari-harinya.” Ujar arsyad salah satu warga di hulu sungai selatan.

Berdasarkan kenyataan, jukung-jukung masih banyak terdapat dan digunakan di perairan Kalimantan Selatan, khusunya di daerah hulu sungai selatan. Masyarakat setempat masih memanfaatkan jukung tujuannya untuk transportasi atau berdagang. Jukung merupakan salah satu kekayaan budaya daerah Kalimantan Selatan yang harus dijaga kelestariannya. Jukung sebagai sarana transportasi tradisional yang khas daerah Kalimantan Selatan, keberdaannya harus di jaga dan dilestarikan generasi muda pada khususnya, sehingga alat transportasi ini dapat tetap bertahan dari ancaman kepunahan.

Oleh karena itu perlu dilakukan Pemberdayaan terhadap budaya daerah karena dengan pemberdayaan ini,budaya yang ada tidak punah atau hilang khususnya pada pemberdayaan jukung,  peran pemerintah daerah memang menjadi faktor utama tapi peran masyarakat dalam pemberdayaan budaya ini juga tidak boleh dianggap remeh terutama di kalangan generasi muda apabila generasi muda tidak dapat menyerap nilai-nilai dari budaya yang telah ada maka budaya bisa punah,oleh sebab itu pemerintah dan masyarakat harus menghimbau agar generasi muda mau terlibat langsung dalam pemberdayaan budaya ini agar generasi muda mengerti dan memahami nilai-nilai yang terkandaung dalam budaya ini sehingga warisan budaya ini dapat bertahan pada generasi berikutnya.

Penulis: Noraniah

Gambar: Tempo.co