JURNALISTIK: Budaya Memakai Kelambu Sebagai Penangkal Parang Maya

JURNALISTIK, Indonesia memiliki beragam suku budaya etnis dan agama. Seperti halnya dengan Urang banua yang memiliki budaya beragam, urang banua adalah sebutan untuk desa besar  yang dapat terdiri dari beberapa buah anak kampung yang terdapat di Kalimantan Selatan. Urang banua bisa juga disebut urang Banjar yang mana urang banua memiliki budaya yang khas seperti Agamis, suka kuliner, suka berkumpul dan suka spekulasi. Urang Banjar sangat mempercayai budaya masyarakat tempo dulu.

Kelambu, urang banua sudah tidak asing lagi dengan kata “kelambu”. Kelambu adalah tirai pelindung di kala tidur. Ya, kelambu berupa tirai tipis berpori-pori memang menjadi satu diantara budaya urang banua tempo dulu. Kelambu menurut fungsinya adalah untuk melindungi kita dari serangan nyamuk atau serangga bahkan binatang kecil lain yang bisa menggangu ketenangan tidur. Saat ini sudah tak banyak lagi urang banua menggunakan kelambu seperti halnya masyarakat yang berada di perkotaan.

Rohani, warga Kelurahan Paliwara Amuntai, Kalimantan Selatan yang masih suka pakai kelambu menyatakan “pakai kelambu melindungi dari gigitan nyamuk dan membuat tidur nyenyak di kala malam, apalagi kalau hari hujan tidur di dalam kelambu seperti pakai selimut”. Kelambu yang digunakan haruslah tetap bersih kalaupun kotor harus dicuci karena bagaimanapun juga dibagian atas kelambu mudah jadi sarang debu, tutur Rohani warga Amuntai.

Nah, selain melindungi diri dari serangan nyamuk dan kedinginan, ternyata ada mitos di masyarakat bahwa kelambu juga dapat menghalangi gangguan jin selama tidur. Miah, warga desa tatah layap Beruntung Batu, Kabupaten Banjar mempercayai hal tersebut. Menurutnya “lebih baik mewas diri dari hal yang tidak diinginkan dan saya sudah terbiasa menggunakan kelambu jadi tidak ada salahnya tidur menggunakan kelambu”. Kelambu dapat memagari diri kita sehingga ilmu jahat tidak bisa masuk ke dalam kelambu ujar Miah warga Tatah Layap.

Dalam masyarakat Banjar dan tatuha zaman dahulu masih percaya bahwa kelambu selain berfungsi sebagai alat untuk melindungi tubuh dari serangan santet, teluh, guna-guna, bahkan parang maya dan berbagai angin lainnya. Entah dari mana asalnya, tapi kebanyakan orang tua zaman dahulu meyakini itu. Bahkan menurut orang dulu bayi baru lahir wajib tidur dalam kelambu karena sangat rentan terhadap angin yang tidak baik. Kelambu juga dipercaya menangkal dari hantu dan makhluk jadi-jadian yang tidak dapat masuk dan menembus sebuah kelambu yang terpasang, apalagi setiap ujung kelambu dan kain kelambu yang menjuntai disisipkan (dirapikan) dibawah kasur.

Budaya yang satu ini sangat lekat dengan urang banua yang mempercayainya. Sampai saat ini di era yang canggih ini masyarakat Kalimantan Selatan tidak pernah menghilangkan kepercayaan itu. Walaupun bersifat klasik kelambu memiliki manfaat juga.

Penulis : Ekka Norliana